Rizuana
Al-Qur'an Inspiration, Sebuah Nasehat

Bagaimana Surat Ad-Duha mengubah hidupmu?

Bagaimana Surat Ad-Duha bisa mengubah hidupmu?

Bagaimana Surat Ad-Duha mengubah hidupmu?

Banyak dari kita sudah tahu surah ad-duha dan mungkin bisa membacanya dengan sangat baik, yang tampaknya cukup mudah untuk dihafal. Berapa banyak dari kita, meskipun, telah benar-benar tahu tentang alasan kenapa ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, tapi sedikit yang tahu bagaimana mengimplikasikan surah Ad-Duha dalam kehidupan kita?

Surah ini diturunkan kepada Nabi Muhammad saw pada saat ia tidak menerima wahyu apapun selama enam bulan, bahkan tidak dalam bentuk mimpi! Nabi saw dalam keadaan pikirannya tidak dalam keadaan tenang, serta perasaan negatif yang kemudian menyangka bahwa Allah tidak peduli pada dirinya, sudah melupakannya, dan tidak ingin memilihnya sebagai Nabi lagi.

lbnu lshaq berkata, “Setelah itu, wahyu terputus dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga beliau sedih karenanya. Kemudian Jibril datang kepada beliau dengan membawa surat Adh-Dhuha. Dalam surat Adh-Dhuha, Allah Ta’ala—Dialah yang memuliakan beliau— bersumpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa Dia tidak meninggalkan beliau dan tidak benci kepada beliau. Allah Ta’ala berfirman,

‘Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tiada benci kepadamu. ’ (Adh-Dhuha: 1-3).

Pada saat ketika tingkat iman kita rendah, kekhusyuan kita dalam shalat dan kemudian kita merasa bahwa hubungan kita dengan Allah tidak bisa kembali seperti dulu lagi? Kita merasa seperti doa kita tidak dijawab, shalat kita tidak memiliki dampak positif pada diri dan hati kita, dan pada tingkatan tertentu kita berkata, “we are goner, and there is nothing we can do”, bahwa kita merasa bahwa Allah tidak mengasihi kita atau tidak peduli kepada kita lagi.

Surah Ad-Dhuha itu diturunkan kepada Nabi saw untuk membebaskannya dari perasaan negatif tersebut dan memberinya harapan positif, dan jaminan bahwa Allah tetap peduli kepadanya. Dan melalui itu kita juga dapat menemukan kedamaian, serta harapan baru kepada-Nya.

Jadi, apa yang terkandung di dalam surah Ad-Duha ini?

(1). وَالضُّحَىٰ
Demi waktu matahari sepenggalahan naik,

Ini adalah hal pertama yang perlu Anda lihat saat Anda mengalami putus asa: Bangun, melihat sinar matahari! Segala sesuatu dalam hidup tidak seperti yang anda bayangkan- You just have to look up! Menengadahlah, look out there, semua indah jika kita bisa benar-benar meresapinya.

(2). وَالَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ
dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),

Mengapa ayat ini tiba-tiba berbicara tentang kegelapan? Ini sebagai pengingat bagi kita bahwa malam ini dimaksudkan untuk menutupi dan memberi kita kenyamanan dan beristirahat di dalamnya.

Umumnya ketika kita mengalami depresi, kita cenderung mengubah pola tidur kita sehingga kebanyakam dari kita memilih untuk begadang di malam hari dan tidur sepanjang hari secara terus-menerus. Ayat ini mengingatkan kita untuk menggunakan malam sebagai kenyamanan untuk meringankan penderitaan kita.

(3). مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,

Ini adalah ayat yang sangat menusuk siapapun yang merasa dirinya tidak dikasihi Allah, dalam ayat ini Allah memberitahu kita bahwa Dia tidak membenci kita dan tidak melupakan kita- mengingatkan orang yang putus asa bahwa Dia selalu di sampingnya!

(4). وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”

Banyak dari kita ketika mengalami depresi, dan kemudian kita berkata: “Is it never going to get better?”

Ayat ini sebagai jawaban yang sempurna untuk pertanyaan-pertanyaan, mengingatkan kita bahwa kehidupan di dunia ini adalah sementara dan akhirat tentu lebih baik, tempat yang lebih kekal dan lebih sempurna dari apa yang kita miliki sekarang.

Hal ini membuat kita melihat ke depan untuk mencapai tempat kita di Surga dan membantu kita melihat masalah dalam kehidupan kita sebagai ujian keimanan sehingga kita memiliki hujjah di sisi Allah bahwa iman kita sudah dipertaruhkan dengan berbagai ujian yang ada di dunia ini.

(5). وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.”

Sebuah janji dari Allah bahwa ia akan segera memberi kita pahala yang besar (Jannah).

Bukankah ini adalah kabar baik bagi Anda ketika Anda tertekan dan ‘muak’ dengan kehidupan dunia ini dan masalah-masalah yang Anda hadapi?

(6). أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?

Dari ayat ini dan seterusnya, Allah memberi kita alasan untuk percaya deklarasi dan janji-janji-Nya dari ayat pertama surah tersebut diturunkan.

Nabi Muhammad terlahir sebagai anak yatim. Ia bahkan tak pernah tahu seperti apa wajah ayahnya. Kemudian belum banyak beliau menikmati kebersamaan dengan ibunya setelah kembali dari Bani Sa’d tempat beliau disusui dan dibesarkan di sana, Aminah, sang ibu dipanggil Allah menyusul ayahnya. Kakek yang mengasuhnya setelah itu pun dipanggil Allah. Hingga Muhammad kecil diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Siapa yang mengatur peristiwa demi peristiwa itu. Siapa sesungguhnya yang merekayasa semuanya. Allah lah pada hakikatnya yang mendidik dan mengasuh Nabi Muhammad, meskipun sebabnya melalui ibu, kakek dan paman juga orang-orang lainnya. Siapa pula yang menumbuhkan kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad.

(7). وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

Siapa yang memberi petunjuk jika bukan Allah. Secara spesifik sebagian ahli tafsir berpendapat petunjuk yang dimaksud di sini adalah kenabian dan syariat yang dibawa oleh beliau.

(8). وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

Allah membebaskan Nabi Muhammad saw dari kefakiran dengan memberi kecukupan. Dari sejak diberi kemampuan mencari nafkah melalui menggembala kambing, kemudian berdagang dan sukses di bidang tersebut, hingga kemudian menikah dengan seorang konglerawati yang shalihah; Khadijah binti Khuwailid ra. Kemudian Allah berikan rasa cukup dan qanaah dalam hati beliau.

(9). فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.

Berbuat baik dan tidak menzhalimi anak yatim menjadi prioritas dalam menyukuri nikmat Allah. Terlebih bagi Rasulullah saw sangat terasa, bagaimana beliau menjadi anak yatim tapi dicintai dan dimuliakan oleh orang-orang sekelilingnya. Tak heran jika dalam berbagai kesempatan beliau sering mengatakan “Aku dan pengafil anak yatim seperti dua jari ini”. Beliau menunjuk jari tengah dan jari telunjuk beliau. Az-Zajjaj memberikan penakwilan lain, yaitu ini sekaligus larangan untuk menzhalimi anak yatim dengan berbagai cara. Di antaranya memakan harta anak yatim yang diwarisi dari orang tuanya.

(10). وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.

Jika ada orang yang meminta maka sebaiknya kita memberinya sesuatu yang membuatnya berbahagia atau setidaknya menghilangkan sedikit bebannya. Jika seandainya kita belum mampu atau tidak memberinya apapun maka sebaiknya kata-kata yang baiklah yang kita berikan kepadanya. Allah berfirman dalam ayat lain, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun” (QS. 2: 263).

(11). وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).

Jika ayat ini diperuntukkan kepada kita maka konteksnya lebih luas. Yang dimaksud menyebut-nyebut, berbicara atau berbagai saat kita mendapat nikmat juga luas. Diawali dengan bertahmid dan bersyukur kepada Allah, kita disunnahkan untuk memberitahu orang-orang yang dekat dan kita cintai. Jika memungkinkan maka percikan nikmat tersebut juga bisa bermanfaat bagi orang lain. Jika nikmat itu adalah harta maka bersyukurlah dengan zakat dan shadaqah. Jika nikmat itu adalah ilmu maka bersyukurlah dengan mengamalkan dan mengajarkannya. Tapi, menyebut-nyebut nikmat secara berlebihan akan mengundang rasa iri dan dengki, maka sebaiknya hal tersebut dilakukan dengan wajar.

And Allah Knows best, until next time. Inshaallah.

Ditulis oleh: Angga Rizuana
On Saturday, January 2016

In Bandung, West Java.

 

 

Sebuah Nasehat

Put Your Trust In Allah

Put your trust in Allah

put your trust in allah

Do you truly have full trust in Allah (SWT)? There are some of us who strive our utmost to prepare for things wherein no certainty exists, whilst others fail to prepare for certain things wherein lies no doubt. And let us not forget those that believe their destiny is completely in their own hands, whilst their counterparts hold, in what can only be described as ‘bravery’, that they have full trust in Allah (SWT), thus granting themselves the ticket to do nothing at all.

“If you had all relied on Allah (SWT) as you should rely on Him, then He would have provided for you as He provides for the birds, who wake up hungry in the morning and return with full stomachs at dusk.”

[At-Tirmidhi]

Tawakkul is a light for our hearts and a means for us to seek nearness towards Allah (SWT) in a manner that absolutely nothing else can achieve. The essence of this quality of the heart is built upon two very important pillars: dependence upon Allah and trust in Allah.

We may often trust a person, without necessarily depending upon them, and likewise we may depend upon a person without fully trusting them. However when it comes to Our Lord (SWT), both exist simultaneously in perfection. So why are we so ready to trust others, but so quick to question Allah (SWT)? I’m sure we can all recall at least one incident in our lives when we experienced the rahma of Allah (SWT) in disguise. What did we do? What did we say? When one of the innumerable blessings we failed to count and thank our Lord for was unexpectedly taken from us, what thoughts rushed to our minds? What regrettable words came from our mouths? Why has this happened? What did I do wrong? Why has my blessing been taken away from me? Such spur of the moment questions, tainted by our false comprehension that the blessings bestowed upon us belonged to us, in an instant, shakes our building of tawakkul, sometimes causing it to collapse, consequently opening up a door for our enemy -Shaytaan and closing a door for us to Our Beloved (SWT).

Sisters, why do we become so devastated at the onset of calamity? Why do we lose all hope? Why do we not simply trust in Allah (SWT)? For every goodness and blessing we own has only been by His Rahma (Mercy). The amaanah (trusts) within our possessions are only ours for a temporary period of time; they belong to Allah and one day we’ll have to return them to Him (SWT). When something is taken away from us or we are faced with a calamity, always remember that Allah is testing our Eemaan (faith) and He (SWT) knows that we are strong enough to deal with it, otherwise it would never have come to us in the first place, for Allah (SWT) never burdens a soul with more than it can bear.

Have full Tawakkul (trust) in Allah (SWT) and never belittle that trust. For the trust we have in Allah is a path to success and a means to achieving victory. Never lose hope and always remember that the situation of a true believer is always one of goodness: For when they are granted a blessing from Allah (SWT) they praise Him and due to that they are rewarded and their blessings increase and when a calamity strikes they patiently persevere, and as a result of which they are rewarded and granted something better than what they lost.

Put your trust in Allah. Allah loves those that trust [in Him].

[Surah al-Imran 3: 159]

Know that Allah (SWT) is pleased with those servants who persevere and He (SWT) loves those that trust in Him. Build a strong foundation of trust and allow for it to accompany you in all that you do. For it is a quality that will remain sufficient for you in the matters of this world, your deen (religion) and in the Aakhira (hereafter) insha’Allah. A beautiful example that never fails to touch my heart is that of our mother: Umm Salamah (RA), when her husband Abu Salamah (RA) passed away and she remained steadfast, uttering the best statement at the time of any calamity: ‘Inna Lillaahi wa inna ilayhi raaji’oon -Surely to Allah we belong and surely to Him we will return’. And she received exactly as Allah (SWT) promises: blessings and mercy:

‘And give good news to those who persevere, those who say, when a misfortune strikes them, Surely to Allah we belong, and surely to Him we will return, these are the ones on whom blessings from their Lord descend, and mercy, and these are the ones who are rightly guided’.

[Surah Al-Baqarah 2: 155-157]

For who could be better as a husband than Rasoolullah (SAW) -A gift to our mother, Umm Salamah (RA) for her tawakkul in Allah (SWT).

It may seem difficult to imagine, and I don’t make out that it’s always the easiest of things to do. However, with complete conviction, as I too have witnessed such a great blessing from Allah (SWT) after a calamity had befallen me, that if you truly trust in your Lord, with every atom’s weight of your heart, Allah will provide for you in ways you could never have imagined.

Let us take a moment to ponder over one ayah in the Qur’an, yes, just one ayah. If I asked you to guess which ayah it is, what would you say? Would it even cross your mind that you read this ayah without fail in every single rakat (standing) of your salah?

‘You Alone we worship and You Alone we ask for help’

[Surah al-Faatihah: 5] “The Opening”

This ayah clearly establishes the tawakkul of the believer. Some of the Salaf (early believers) have said, “Al-Faatihah is the secret of the Qur’an, while these words are the secret of Al-Faatihah.” So how can we stand before Allah day in and day out, uttering such perfect words of tawakkul, and yet not sincerely mean them? For belief, undoubtedly, must be followed by action.

Our Lord (SWT) With His Hikmah, Love and Rahmah knows exactly what is good for us, so let us not be amongst the sinful servants of Allah (SWT) who suspect Him of wrongdoing. So the next time you stand before Allah (SWT) and consult Him in your affairs, don’t think He’ll give you what is good for you; know with certainty that He (SWT) will:

Say: “Nothing will befall us except what Allah has ordained for us. He is our Protector. In Allah let the believers put their trust.” [Surah At-Tawbah: 51]

Untukmu yang sedang sakit (Said Nursi)
Sebuah Nasehat

Surat kecil; Untukmu yang sedang sakit

In the name of Allah, the All-Merciful, the Most Merciful.

Surat kecil; Untukmu yang sedang sakit

Untukmu yang sedang sakit

Umur terasa panjang karena derita telah menjadi sebuah peribahasa sehingga dikatakan, “Betapa panjang masa musibah dan betapa pendek waktu gembira!”

Wahai saudaraku yang sedang gelisah karena sakit akibat mengingat berbagai kenikmatan dunia! Seandainya dunia ini kekal abadi, lalu kematian menyingkir dari jalan kehidupan, kemudian setelah itu tidak ada lagi perpisahan, serta masa depan penuh dengan berbagai penderitaan terbebas dari musim dingin maknawi, maka aku turut berduka dan menangis melihat kondisimu.

Namun karena dunia mengusir kita dengan berkata, “ayo keluar!” Sementara ia tuli, tak terdengar teriakan dan permintaan tolong kita. Maka sebelum ia mengusir kita, mulai dari sekarang kita harus membuang rasa cinta terhadapnya serta perasaan kekal di dalamnya lewat teguran sakit.

Sebelum dunia itu melepaskan kita, kita yang harus lebih dahulu meninggalkannya secara batiniah (dalam hati).

Ya, sakit dan efeknya yang menyadarkan kita tentang makna yang tersembunyi mendalam tadi, membisikkan relung-relung kalbu kita seraya berkata, “Tubuhmu tidak terdiri dari benda padat dan besi. Tetapi ia berasal dari unsur-unsur yang beraneka ragam yang tersusun di dalam dirimu secara sangat sesuai untuk kemudian segera terpisah dan tercerai-berai.”

Karena itu, janganlah engkau sombong. Sadarilah kelemahanmu dan kenalilah Penciptamu. Selanjutnya, ketahuilah apa tugasmu dan apa tujuanmu datang kedunia.

Saudaraku. Jangan gelisah, bersabarlah! Karena sesungguhnya derita sakitmu itu bukanlah penyakit, tapi justru sebuah obat. Hal itu karena, umur manusia adalah modal yang terus berkembang. Jika tidak diinvestasikan maka akan hilang begitu saja. Apalagi jika usiamu dilalui dengan santai dan penuh keapaan, maka dia akan berlalu dengan cepat.

Dengan demikian sakit tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang besar bagi modal hidup dan tidak mengijinkan usia berlalu begitu saja dengan cepat. Ia tampak memperlambat umur, menghentikan, serta memperpanjangnya hingga berbuah, kemudian kembali ke asalnya.

Umur terasa panjang karena derita telah menjadi sebuah peribahasa sehingga dikatakan, “Betapa panjang masa musibah dan betapa pendek waktu gembira!”

Kemudian, selama keindahan dan kenikmatan dunia tidak akan abadi, khususnya jika tidak syar’I bahkan menghembuskan derita ke dalam jiwa dan mengakibatkan dosa, maka jangan engkau menangis karena tidak merasakan kenikmatan itu akibat derita sakitmu.

Akan tetapi, renungkan makna ibadah maknawi yang dikandung penderitaanmu itu serta pahala ukhrawi yang disembunyikan dari derita sakit tersebut. Berusahalah semampu mungkin untuk mendapatkan rasa yang suci bersih itu.

Dalam kondisi seperti itu, penyakit segera menyadarkanmu. Seakan-akan penyakit itu berkata kepadamu, “Engkau tidak abadi dan dibiarkan begitu saja. Engkau memiliki kewajiban. Tinggalkan sifat sombong dan ingat Tuhan yang menciptakanmu.”

Sakitmu sebagai mursyid (pembimbing) yang rajin memberikan nasihat dan peringatan. Karenanya, janganlah mengeluh, justru bernaunglah di bawah naungan syukur. Jika rasa sakit semakin menjadi-jadi, mohonlah kesabaran kepada-Nya.

Jadilah seperti mereka yang ketika ditimpa musibah mengatakan:

“Yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah, mereka mengatakan: Sesungguhnya kami milik Allah swt dan hanya kepada-Nyalah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)

“Kesederhanaan menghasilkan kebaikan dalam keinginan. Dan keinginan yang sempurna adalah menginginkan wajah- Nya.”

Semoga Allah memberkahimu dan menyembuhkan sakitmu.

(Terinspirasi dari buku berjudul, “Terapi maknawi dengan resep Qur’ani” pengarang: Badiuzzaman Said Nursi)

Ditulis oleh: Angga Rizuana
On Wednesday, April 15 2015

In Bandung, West Java

Untukmu yang (tetap) memegang iman dengan kuat
Sebuah Nasehat

Untukmu yang (tetap) memegang iman dengan kuat

In the name of Allah, the All-Merciful, the Most Merciful.

Untukmu yang tetap memegang iman dengan kuat

Semoga kebaikan selalu menyertaimu. #Kecantikan dan #kesucian yang terpancar dari wajahmu adalah permata yang senantiasa bersinar terang, tidak akan pernah padam dan tidak akan pernah sirna oleh waktu.

Semoga engkau tetap memiliki pancaran iman dari akhlak budimu. Perangai yang mencerminkan seorang muslimah, lengkap dengan asesoris hijab yang engkau yakini bukan sekedar asesoris, melainkan fardhu ‘ain bagi siapapun mengaku dirinya muslimah; yaitu wanita yang telah bersyahadat bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.

Semoga engkau tetap memegang iman dengan kuat, seperti ketika temanmu mengajakmu ke tempat hiburan namun engkau menolaknya. Karena engkau adalah seorang muslimah yang harus dijaga kesuciannya, dijaga kehormatannya, dan dijaga imannya.

Engkau perlu mengetahui, bahwa di balik cahaya ada cahaya yang lebih terang. Mata yang senantiasa melihat kesucian berbeda dengan mata yang selalu melihat keburukan. Dan engkau pun pasti tahu, bahwa setiap mata adalah titipan yang harus tetap dijaga. Tahukah? Bahwa cahaya yang lebih terang itu adalah ketika kau tidak membiarkan matamu dilihat oleh orang yang tidak berhak untuk melihatnya.

Engkau pasti menginginkan surga. Iya, semua wanita menginginkan itu. Maka pesanku padamu, “jangan biarkan keindahan yang ada pada dirimu engkau persembahkan kepada yang tidak berhak.” Karena setiap mata menghasilkan dosa, dan setiap dosa menghasilkan keburukan.

Engkau pasti ingin terlihat cantik di hadapan para lelaki. Tapi, tunggu dulu. Apa memang itu yang akan benar-benar membahagiakanmu? Tidak. Sesungguhnya kebahagiaan adalah ketika kau dipuji oleh suamimu dan dia mengatakan, “Wahai Ibu dari anak-anakku, engkau adalah bidadari yang senantiasa bercahaya walau tubuhmu berubah dan mengerut, cahayamu tidak akan padam oleh waktu. Oh sayang, aku mencintaimu.”.

Engkau menginginkan itu? Aku yakin engkau pasti menginginkannya. Maka jadilah wanita dan istri yang sholehah. Seandainya engkau memilih untuk membuka hijabmu, lalu mereka menikmati keindahanmu maka itu yang akan membuatmu bersedih. Kenapa? Karena mereka akan meninggalkanmu ketika engkau tidak cantik lagi di hadapan mereka.

My dear sisters. I hope you have high iman. And may Allah bless you with Islam.

Wahai muslimah. Tetaplah istiqamah di atas agamamu. Yakinilah bahwa janji Allah pasti benar. Seorang wanita yang menjaga dirinya akan mendapatkan surga dan dia kekal di dalamnya. Yakini itu. That’s the straigh path.

Semoga Allah memberkahimu dan menjagamu dari keburukan dunia. Dan semoga engkau dimasukan ke dalam kelompok wanita-wanita yang telah berada di jalan yang indah; bersama-Nya.

Ditulis oleh: Angga Rizuana
On Wednesday, April 15 2015

In Bandung, West Java

O my slave come back to your lord | Wahai hamba-Ku, kembalilah kepada Tuhanmu
Sebuah Nasehat

O my slave come back to your lord | Wahai hamba-Ku, kembalilah kepada Tuhanmu

In the name of Allah, the All-Merciful, the Most Merciful.

kembali kepada allah

“Wahai hamba-Ku kembalilah kepada-Ku”

Pada masanya kita akan terharu #bahagia ketika mengetahui kasih sayang-Nya. Ini bukan sekedar imajinasi dari sebuah cerita-cerita khayalan yang dibuat orang-orang tentang Tuhan. Bahkan ini kisah yang tercatat rapih dalam balutan tinta emas.

Bagaimana kita akan merasa bahwa Allah sangatlah ramah dan penyayang kepada hamba-Nya. Kita akan sadar bahwa kita sangatlah lemah dan setiap saat kita butuh kasih sayang-Nya.

Kalau bukan dari kasih sayang-Nya, lalu dari siapa lagi kita meminta kasih sayang?

Bukankah Dia adalah yang menjaga jantung kita untuk tetap berdenyut? Kalaulah jantung ini berhenti, lalu apa yang akan terjadi pada diri kita? Pada skala yang tinggi, Allah menciptakan setiap sel pada tubuh kita, LIHATLAH? Tidak ada yang cacat, tidak ada yang salah. Semuanya tertata rapih dan indah.

“We forget about the power of Allah. We forget about presence of Allah. We forget that we came from a clot. And we were nothing.”

Kalau bukan dari kasih sayang-Nya, lalu dari siapa lagi kita meminta kasih sayang? Dari mereka yang sengaja membuang kita? Atau dari mereka menelantarkan kehidupan kita?

Dalam keadaan kita begelimang dosa yang kita tidak bisa menghitungnya Allah tetap mengatakan, “Kembalilah kepada-Ku, sesungguhnya Aku mengampuni semua dosa.” Bahkan ketika Fir’aun mengaku dirinya Tuhan, Allah tetap memberikan kesempatan kepadanya untuk bertaubat. Kita tidak tahu ada yang melebihi dosanya Fir’aun di muka bumi ini, tapi lihatlah Allah tetap menunjukkan kasih sayang-Nya yang luar biasa.

Sampai kepada seorang yang mengaku dirinya tuhan? Sampai kepada seorang yang membantai kaum lemah? Sampai kepada seorang yang membunuh setiap bayi laki-laki yang baru lahir? Berapa ratus dan berapa jiwa yang menderita akibat kekejaman fir’aun. Lihatlah, Allah tetap memberikannya kesempatan untuk bertaubat. Subhanallah.

Rasulullah saw bersabda:

Allah berfirman: ”Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kamu membuat kesalahan pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, maka memohon ampunlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu. (Hadist Shohih riwayat Muslim, no : 2577)

Brothers and sisters in Islam. Kita mempunyai banyak masalah yang membuat hidup kita hancur. Dan kita melupakan Allah, kita melupakan kewajiban kita. Dan itu yang membuat hati kita gelap, itu yang membuat hidup kita tak tentu arah.

“O my slave come back to your lord ! O my slave. This is a reminder for you that I want to bring you back to me.”

Rosulullah saw juga bersabda : Allah berfirman : ”Wahai anak adam, walaupun dosa kamu mencapai setinggi langit , kemudian kamu beristighfar memohon ampun kepada –Ku, maka niscaya Aku ampuni kamu, dan Aku tidak peduli.” (Hadist Shohih Riwayat Tirmidzi no : 2540 dan Ahmad : 5/ 172)

Disini kita lihat bagaimana Allah mencurahkan rasa cintanya dan rahmatnya kepada hambanya? Memang tidak aneh kalau seorang budak mencari-cari untuk dicintai oleh tuannya, tapi yang aneh justru tuannya yang mecari-cari perhatian untuk dicintai oleh budaknya, padahal dia tidak perlu dengan cintanya itu.

Yang berbuat demikian itu hanyalah Allah SWT.

“You’re not servant of ‘Al- Laa or Al-Uzaa. You’re not servant of money or beauty or power or position. You’re the slave of Allah. Allah has chosen you from amongst billions human being. Allah chose you and blessed you with Islam.”

“Anda bukan hamba dari Al-Laa, atau Al-Uzaa. Anda bukan hamba uang, kecantikan, kekuasaan, atau jabatan. Anda adalah hamba Allah. Allah telah memilih anda dari jutaan manusia yang ada. Allah memilihmu dan memberkahimu dengan Islam”

Allah maha penyayang, baik, pengampun

Maka bersyukurlah anda dalam Islam, anda berada di jalan yang benar dan lurus. This is the straight path.

Sadarilah bahwa agama Islam mudah; semuanya pasti bisa menjalaninya atas izin-Nya. “Allah menghendaki kemudahan, dan tidak menyukai kesulitan” (2:185)

Meski begitu jangan sampai mempermainkan agama ini;

“Sesungguhnya yang menghina agama ini adalah seperti seseorang yang meludahi langit, lalu apa yang akan kembali padanya selain air liurnya sendiri”

Wahai yang sedang bersedih, ingatlah bahwa Allah akan memberikan kebaikan dari kesedihan itu.

“Surely we shall test each and every single one of you with a loss of wealth, with a loss of life, with a loss of profit and trade. So give glad tidings; to those who are patient.” (QS. 2:155)

Kita memohon kepada Allah untuk ditempatkan pada jalan yang lurus dan mencapai derajat orang sholeh sehingga bisa menapaki jejak mereka dalam kebaikan. Aamiin.

Ditulis oleh: Angga Rizuana
On Wednesday, April 15 2015

In Bandung, West Java