Uncategorized

Tuhan, jagat raya, dan manusia

Tuhan, jagat raya, dan manusia
Tuhan, jagat raya, dan manusia

Hidup seperti mengendalikan kapal pesiar yg memiliki semacam kendali,  behenti pada satu titik untuk menemukan pola yang sempurna. Kita berjalan di tempat yg asing, bahkan peta jagat raya kita tidak punya, apalagi petunjuk masa depan. Namun Islam datang melalui kasih sayang-Nya, memperkenalkan pencipta jagat raya dan segala isinya, termasuk manusia. Kita diberi insting untuk selalu ingin tahu segala hal, bukan saja mencari keinginan, tapi juga kebutuhan.  Ratusan, bahkan ribuan tahun manusia bertumbuh dan berkembang biak, ini artinya ada semacam kendali yang ditetapkan, untuk porsi dan waktu tertentu, dan tentang bagaimana alam seperti siap memenuhi kebutuhan kita. pasti ada pencipta yang mengatur strategi unik ini. Organ-organ, sel dan otak tertata apik, sehingga tidak ada satu pun yang kurang. Teknologi manusia sehebat apapun tidak akan bisa menandingi teknologi Tuhan yang mengatur alam semesta, bahkan jika tanpa Tuhan kita tidak akan pernah ada.

Subhanallah, Allahuakbar.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَآءً  ۚ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ   ؕ  اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”

(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 1)

Angga Riswana,

Garut, 15/04/17

Iklan
Uncategorized

Hiduplah di saat ini

Manusia mudah terjebak pada apa yang telah berlalu atau pada apa yang belum terjadi.


Saya juga sama. Jika tidak awas atau terus sadar, kita bisa saja terlena di dalamnya. Tetapi kemudian saya menyadari bahwa sebenarnya tidak ada satupun hal yang saya miliki kecuali saat ini. Maka daripada menyimpan penyesalan tiada akhir pada hal yang tidak mungkin kita ubah kejadiannya, lebih baik membiarkannya berlalu, lalu fokus di saat ini, melihat dan menyadari sepenuhnya apa yang telah hadir dan kita miliki di saat ini.

Kita mungkin tidak tahu, sampai kapan seseorang bisa terus ada di sisi kita, kita mungkin tidak tahu sampai kapan kita bisa melihat wajahnya dan mendengar suaranya, kita juga mungkin tidak tahu berapa lama tepatnya kontrak kehidupan yang kita miliki dengannya.

Kita mungkin juga tidak tahu, sampai kapan waktu yang kita miliki untuk tetap berada dalam realita ini.

Jika dalam realita tersebut, semua momen tersebut berakhir, apa yang akan kita lakukan kemudian?

Terkadang kita lupa dan menunggu waktu sampai Semesta menyadarkan kita betapa kita mengabaikan sesuatu dalam hidup kita, entah orang tertentu, momen tertentu, atau diri kita sendiri.

Kita terlalu sibuk melihat ke masa lalu, menangisi seseorang yang telah hilang, atau melihat ke masa depan, merindukan momen yang belum terjadi atau seseorang yang belum nampak wujudnya. Lalu kita lupa, kita masih berada di saat ini, kita lupa masih ada orang-orang luar biasa yang mencintai kita meskipun kita tidak menyadarinya, kita mengabaikan mereka karena sibuk mengabaikan masa kini.

Maka lihatlah saat ini.

Pada orang-orang yang masih kita miliki, pada orang-orang yang secara nyata ada di sekitar kita, pada diri kita sendiri yang mungkin selama ini tidak pernah didengarkan, juga pada momen nyata di saat ini.

Jika ada yang ingin benar-benar kamu lakukan, baik untuk dirimu atau orang-orang yang kamu kasihi, lakukanlah saat ini, ketika kamu masih mampu melakukannya.

Janganlah penyesalan itu hadir ketika kita kehilangan semua momen dan kesempatan yang kita miliki untuk melakukan apa yang penting dan kita inginkan. Janganlah rasa bersalah itu muncul ketika kita lupa dan mengabaikan apa yang selalu kita miliki di masa kini.

Saat ini adalah satu-satunya momen berharga yang kita miliki, bukan kemarin ataupun besok.

Hanya di saat ini.

in light and love,

termasuk makhluk allah (hewan)
Melihat dan Memahami

Untuk apa kita hidup?

Untuk apa kita hidup?

 

Untuk apa kita hidup?

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”(QS. Al Mu’minun: 115)

Saya mulai mengenal benar-benar tentang ‘tujuan sebenarnya sebagai manusia’ ketika saya mulai lulus dari Sekolah Menengah Atas. Mungkin terlalu terlambat jika dilihat dari usia dan hal-hal lain yang bisa dipertanyakan. Hal itu menjadi salah satu bentuk keanehan juga, padahal banyak tanda yang bisa saya lihat pada saat dimana lingkungan banyak memberikan alasan untuk saya sadar terhadap diri saya dan tujuan saya (sebagai manusia) yang sebenarnya. Jika saya putar kembali, ternyata apa yang saya lalui di  adalah wujud dari KESENANGAN saja, bahkan saya tidak benar-benar mendapatkan kepuasan di dalam diri saya tentang apa yang saya lakukan dan saya inginkan. Saya berpetualang dengan angan-angan kosong, dan mimpi yang salah, juga karena faktor pendidik yang memberikan harapan berupa dunia dan kesuksesannya. Seolah saya diterbangkan oleh angan-angan untuk mendapatkan dunia saja.

Ada beberapa dalam hidup saya yang selama ini saya pegang dan nkmati sebagai manusia; ternyata saya benar-benar tidak memerlukan itu lagi, beberapa hari lalu saya berniat menghapusnya. Bukan satu dua, tetapi banyak. Tapi saya seakan merasa sayang melakukan itu. Saya diam beberapa saat; perasaan saya mendorong untuk menghapusnya, namun pikiran seakan ingin bertahan dan menolak. Hanya beberapa detik, saya akhirnya tersadar memang tidak ada yang butuh dipertahankan jika memang tidak lagi align dengan diri saya! Banyak impian pun terhapus, khususnya di masa awal saya sekolah sampai lulus dan bekerja; sebagian pemahaman yang salah juga saya revisi menjadi lebih align. Saya melakukan ini bukan karena feeling tertentu, sepertinya memang karena impian dan pemahaman saya mengenai hidup sudah terlanjur salah, saya ingat sesuatu kemudian tersadar dan pikiran saya mendorong saya untuk melihat sesuatu yang lebih penting, tetapi jujur saja saya masih menginginkannya karena sudah menjadi tuntutan moril. Kemudian pikiran seolah mencegah, mungkin takut smenyesal. Nyatanya, saya tidak menyesal. Saya malah lega. Pikiran hanya takut sehingga ia berlaku demikian.

Lalu untuk apa saya hidup, dihidupkan, dan diberadakan di dunia ini? Pertanyaan ini yang sering saya tanyakan pada diri saya sendiri. Setiap pagi saya bangun, kemudian bekerja, setelah mendapatkan uang saya membeli apapun yang saya inginkan, termasuk untuk memuaskan diri sendiri dengan kesenangan-kesenangan, lalu kemudian saya tidur dan bangun lagi. Saya pernah bertanya begini kepada Ibu saya, kenapa saya ada di dunia ini? Saya bahkan tidak pernah meminta untuk dihidupkan kepada yang menciptakan, atau kenapa saya berlayar di dunia yang penuh dengan keanehan dan misteri?

Saya pernah bertanya kepada teman saya tentang tujuan hidup. Dia menjawab,

“Pertanyaan itu tidak akan pernah ada habisnya, begitu pula ego yang hadir seakan ingin selalu mencari, dan mencari sebuah jawaban. Sadari saja. Pada waktunya kamu akan menemukan apa yang ‘perlu’ kamu sadari.”

Mungkin pertanyaan itu menjadi jawaban tersendiri, kenapa? Karena memang hidup untuk mencari dan memahami. Ya, kita harus mencari pembenaran.

“Sangat banyak dijadikan di langit galaksi-galaksi dan Dia jadikan  padanya pelita-pelita dan qomar-qomar yang bercahaya”. (QS.21-Al Furqaan:61)

“Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan karakter berkilau dan terpelihara. Demikianlah ketentuan Penakluk Yang Maha Mengetahui”. (QS.41-Fushshilat :12).

Siapa pencipta bulan?

 

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilahnya (Orbit-orbit).”(QS.10-Yunus:5)

 

Saya melihat matahari

Kita melihat Hewan dan Binatang,

termasuk makhluk allah (hewan)

 

Dan apapun yang ada di sekitar kita adalah wujud dari keanehan. Ya, kita harus mencari pembenaran.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun: 115)

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah: 36)

Imam Asy Syafi’i mengatakan, “(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”.

 

 And Allah knows best.

Ditulis oleh: Angga Rizuana
On Saturday, Februari 15 2016

In Bandung, West Java

Siapa pencipta bintang?
Al-Qur'an Inspiration

Menggulung (the great word)

Siapa pencipta bintang?
Siapa pencipta bintang?

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan.

Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya. Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing, sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang dita’ati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.

Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, maka ke manakah kamu akan pergi?

Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

(SURAT AT-TAKWIR 81 (29) ayat 1-29)

The great word from : The God of Universe (Allah, Rabbul’alamiin)

 

Rizuana
Al-Qur'an Inspiration, Sebuah Nasehat

Bagaimana Surat Ad-Duha mengubah hidupmu?

Bagaimana Surat Ad-Duha bisa mengubah hidupmu?

Bagaimana Surat Ad-Duha mengubah hidupmu?

Banyak dari kita sudah tahu surah ad-duha dan mungkin bisa membacanya dengan sangat baik, yang tampaknya cukup mudah untuk dihafal. Berapa banyak dari kita, meskipun, telah benar-benar tahu tentang alasan kenapa ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, tapi sedikit yang tahu bagaimana mengimplikasikan surah Ad-Duha dalam kehidupan kita?

Surah ini diturunkan kepada Nabi Muhammad saw pada saat ia tidak menerima wahyu apapun selama enam bulan, bahkan tidak dalam bentuk mimpi! Nabi saw dalam keadaan pikirannya tidak dalam keadaan tenang, serta perasaan negatif yang kemudian menyangka bahwa Allah tidak peduli pada dirinya, sudah melupakannya, dan tidak ingin memilihnya sebagai Nabi lagi.

lbnu lshaq berkata, “Setelah itu, wahyu terputus dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga beliau sedih karenanya. Kemudian Jibril datang kepada beliau dengan membawa surat Adh-Dhuha. Dalam surat Adh-Dhuha, Allah Ta’ala—Dialah yang memuliakan beliau— bersumpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa Dia tidak meninggalkan beliau dan tidak benci kepada beliau. Allah Ta’ala berfirman,

‘Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tiada benci kepadamu. ’ (Adh-Dhuha: 1-3).

Pada saat ketika tingkat iman kita rendah, kekhusyuan kita dalam shalat dan kemudian kita merasa bahwa hubungan kita dengan Allah tidak bisa kembali seperti dulu lagi? Kita merasa seperti doa kita tidak dijawab, shalat kita tidak memiliki dampak positif pada diri dan hati kita, dan pada tingkatan tertentu kita berkata, “we are goner, and there is nothing we can do”, bahwa kita merasa bahwa Allah tidak mengasihi kita atau tidak peduli kepada kita lagi.

Surah Ad-Dhuha itu diturunkan kepada Nabi saw untuk membebaskannya dari perasaan negatif tersebut dan memberinya harapan positif, dan jaminan bahwa Allah tetap peduli kepadanya. Dan melalui itu kita juga dapat menemukan kedamaian, serta harapan baru kepada-Nya.

Jadi, apa yang terkandung di dalam surah Ad-Duha ini?

(1). وَالضُّحَىٰ
Demi waktu matahari sepenggalahan naik,

Ini adalah hal pertama yang perlu Anda lihat saat Anda mengalami putus asa: Bangun, melihat sinar matahari! Segala sesuatu dalam hidup tidak seperti yang anda bayangkan- You just have to look up! Menengadahlah, look out there, semua indah jika kita bisa benar-benar meresapinya.

(2). وَالَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ
dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),

Mengapa ayat ini tiba-tiba berbicara tentang kegelapan? Ini sebagai pengingat bagi kita bahwa malam ini dimaksudkan untuk menutupi dan memberi kita kenyamanan dan beristirahat di dalamnya.

Umumnya ketika kita mengalami depresi, kita cenderung mengubah pola tidur kita sehingga kebanyakam dari kita memilih untuk begadang di malam hari dan tidur sepanjang hari secara terus-menerus. Ayat ini mengingatkan kita untuk menggunakan malam sebagai kenyamanan untuk meringankan penderitaan kita.

(3). مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,

Ini adalah ayat yang sangat menusuk siapapun yang merasa dirinya tidak dikasihi Allah, dalam ayat ini Allah memberitahu kita bahwa Dia tidak membenci kita dan tidak melupakan kita- mengingatkan orang yang putus asa bahwa Dia selalu di sampingnya!

(4). وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”

Banyak dari kita ketika mengalami depresi, dan kemudian kita berkata: “Is it never going to get better?”

Ayat ini sebagai jawaban yang sempurna untuk pertanyaan-pertanyaan, mengingatkan kita bahwa kehidupan di dunia ini adalah sementara dan akhirat tentu lebih baik, tempat yang lebih kekal dan lebih sempurna dari apa yang kita miliki sekarang.

Hal ini membuat kita melihat ke depan untuk mencapai tempat kita di Surga dan membantu kita melihat masalah dalam kehidupan kita sebagai ujian keimanan sehingga kita memiliki hujjah di sisi Allah bahwa iman kita sudah dipertaruhkan dengan berbagai ujian yang ada di dunia ini.

(5). وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.”

Sebuah janji dari Allah bahwa ia akan segera memberi kita pahala yang besar (Jannah).

Bukankah ini adalah kabar baik bagi Anda ketika Anda tertekan dan ‘muak’ dengan kehidupan dunia ini dan masalah-masalah yang Anda hadapi?

(6). أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?

Dari ayat ini dan seterusnya, Allah memberi kita alasan untuk percaya deklarasi dan janji-janji-Nya dari ayat pertama surah tersebut diturunkan.

Nabi Muhammad terlahir sebagai anak yatim. Ia bahkan tak pernah tahu seperti apa wajah ayahnya. Kemudian belum banyak beliau menikmati kebersamaan dengan ibunya setelah kembali dari Bani Sa’d tempat beliau disusui dan dibesarkan di sana, Aminah, sang ibu dipanggil Allah menyusul ayahnya. Kakek yang mengasuhnya setelah itu pun dipanggil Allah. Hingga Muhammad kecil diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Siapa yang mengatur peristiwa demi peristiwa itu. Siapa sesungguhnya yang merekayasa semuanya. Allah lah pada hakikatnya yang mendidik dan mengasuh Nabi Muhammad, meskipun sebabnya melalui ibu, kakek dan paman juga orang-orang lainnya. Siapa pula yang menumbuhkan kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad.

(7). وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

Siapa yang memberi petunjuk jika bukan Allah. Secara spesifik sebagian ahli tafsir berpendapat petunjuk yang dimaksud di sini adalah kenabian dan syariat yang dibawa oleh beliau.

(8). وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

Allah membebaskan Nabi Muhammad saw dari kefakiran dengan memberi kecukupan. Dari sejak diberi kemampuan mencari nafkah melalui menggembala kambing, kemudian berdagang dan sukses di bidang tersebut, hingga kemudian menikah dengan seorang konglerawati yang shalihah; Khadijah binti Khuwailid ra. Kemudian Allah berikan rasa cukup dan qanaah dalam hati beliau.

(9). فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.

Berbuat baik dan tidak menzhalimi anak yatim menjadi prioritas dalam menyukuri nikmat Allah. Terlebih bagi Rasulullah saw sangat terasa, bagaimana beliau menjadi anak yatim tapi dicintai dan dimuliakan oleh orang-orang sekelilingnya. Tak heran jika dalam berbagai kesempatan beliau sering mengatakan “Aku dan pengafil anak yatim seperti dua jari ini”. Beliau menunjuk jari tengah dan jari telunjuk beliau. Az-Zajjaj memberikan penakwilan lain, yaitu ini sekaligus larangan untuk menzhalimi anak yatim dengan berbagai cara. Di antaranya memakan harta anak yatim yang diwarisi dari orang tuanya.

(10). وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.

Jika ada orang yang meminta maka sebaiknya kita memberinya sesuatu yang membuatnya berbahagia atau setidaknya menghilangkan sedikit bebannya. Jika seandainya kita belum mampu atau tidak memberinya apapun maka sebaiknya kata-kata yang baiklah yang kita berikan kepadanya. Allah berfirman dalam ayat lain, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun” (QS. 2: 263).

(11). وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).

Jika ayat ini diperuntukkan kepada kita maka konteksnya lebih luas. Yang dimaksud menyebut-nyebut, berbicara atau berbagai saat kita mendapat nikmat juga luas. Diawali dengan bertahmid dan bersyukur kepada Allah, kita disunnahkan untuk memberitahu orang-orang yang dekat dan kita cintai. Jika memungkinkan maka percikan nikmat tersebut juga bisa bermanfaat bagi orang lain. Jika nikmat itu adalah harta maka bersyukurlah dengan zakat dan shadaqah. Jika nikmat itu adalah ilmu maka bersyukurlah dengan mengamalkan dan mengajarkannya. Tapi, menyebut-nyebut nikmat secara berlebihan akan mengundang rasa iri dan dengki, maka sebaiknya hal tersebut dilakukan dengan wajar.

And Allah Knows best, until next time. Inshaallah.

Ditulis oleh: Angga Rizuana
On Saturday, January 2016

In Bandung, West Java.