termasuk makhluk allah (hewan)
Melihat dan Memahami

Untuk apa kita hidup?

Untuk apa kita hidup?

 

Untuk apa kita hidup?

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”(QS. Al Mu’minun: 115)

Saya mulai mengenal benar-benar tentang ‘tujuan sebenarnya sebagai manusia’ ketika saya mulai lulus dari Sekolah Menengah Atas. Mungkin terlalu terlambat jika dilihat dari usia dan hal-hal lain yang bisa dipertanyakan. Hal itu menjadi salah satu bentuk keanehan juga, padahal banyak tanda yang bisa saya lihat pada saat dimana lingkungan banyak memberikan alasan untuk saya sadar terhadap diri saya dan tujuan saya (sebagai manusia) yang sebenarnya. Jika saya putar kembali, ternyata apa yang saya lalui di  adalah wujud dari KESENANGAN saja, bahkan saya tidak benar-benar mendapatkan kepuasan di dalam diri saya tentang apa yang saya lakukan dan saya inginkan. Saya berpetualang dengan angan-angan kosong, dan mimpi yang salah, juga karena faktor pendidik yang memberikan harapan berupa dunia dan kesuksesannya. Seolah saya diterbangkan oleh angan-angan untuk mendapatkan dunia saja.

Ada beberapa dalam hidup saya yang selama ini saya pegang dan nkmati sebagai manusia; ternyata saya benar-benar tidak memerlukan itu lagi, beberapa hari lalu saya berniat menghapusnya. Bukan satu dua, tetapi banyak. Tapi saya seakan merasa sayang melakukan itu. Saya diam beberapa saat; perasaan saya mendorong untuk menghapusnya, namun pikiran seakan ingin bertahan dan menolak. Hanya beberapa detik, saya akhirnya tersadar memang tidak ada yang butuh dipertahankan jika memang tidak lagi align dengan diri saya! Banyak impian pun terhapus, khususnya di masa awal saya sekolah sampai lulus dan bekerja; sebagian pemahaman yang salah juga saya revisi menjadi lebih align. Saya melakukan ini bukan karena feeling tertentu, sepertinya memang karena impian dan pemahaman saya mengenai hidup sudah terlanjur salah, saya ingat sesuatu kemudian tersadar dan pikiran saya mendorong saya untuk melihat sesuatu yang lebih penting, tetapi jujur saja saya masih menginginkannya karena sudah menjadi tuntutan moril. Kemudian pikiran seolah mencegah, mungkin takut smenyesal. Nyatanya, saya tidak menyesal. Saya malah lega. Pikiran hanya takut sehingga ia berlaku demikian.

Lalu untuk apa saya hidup, dihidupkan, dan diberadakan di dunia ini? Pertanyaan ini yang sering saya tanyakan pada diri saya sendiri. Setiap pagi saya bangun, kemudian bekerja, setelah mendapatkan uang saya membeli apapun yang saya inginkan, termasuk untuk memuaskan diri sendiri dengan kesenangan-kesenangan, lalu kemudian saya tidur dan bangun lagi. Saya pernah bertanya begini kepada Ibu saya, kenapa saya ada di dunia ini? Saya bahkan tidak pernah meminta untuk dihidupkan kepada yang menciptakan, atau kenapa saya berlayar di dunia yang penuh dengan keanehan dan misteri?

Saya pernah bertanya kepada teman saya tentang tujuan hidup. Dia menjawab,

“Pertanyaan itu tidak akan pernah ada habisnya, begitu pula ego yang hadir seakan ingin selalu mencari, dan mencari sebuah jawaban. Sadari saja. Pada waktunya kamu akan menemukan apa yang ‘perlu’ kamu sadari.”

Mungkin pertanyaan itu menjadi jawaban tersendiri, kenapa? Karena memang hidup untuk mencari dan memahami. Ya, kita harus mencari pembenaran.

“Sangat banyak dijadikan di langit galaksi-galaksi dan Dia jadikan  padanya pelita-pelita dan qomar-qomar yang bercahaya”. (QS.21-Al Furqaan:61)

“Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan karakter berkilau dan terpelihara. Demikianlah ketentuan Penakluk Yang Maha Mengetahui”. (QS.41-Fushshilat :12).

Siapa pencipta bulan?

 

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilahnya (Orbit-orbit).”(QS.10-Yunus:5)

 

Saya melihat matahari

Kita melihat Hewan dan Binatang,

termasuk makhluk allah (hewan)

 

Dan apapun yang ada di sekitar kita adalah wujud dari keanehan. Ya, kita harus mencari pembenaran.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun: 115)

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah: 36)

Imam Asy Syafi’i mengatakan, “(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”.

 

 And Allah knows best.

Ditulis oleh: Angga Rizuana
On Saturday, Februari 15 2016

In Bandung, West Java

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s