Untukmu yang sedang sakit (Said Nursi)
Sebuah Nasehat

Surat kecil; Untukmu yang sedang sakit

In the name of Allah, the All-Merciful, the Most Merciful.

Surat kecil; Untukmu yang sedang sakit

Untukmu yang sedang sakit

Umur terasa panjang karena derita telah menjadi sebuah peribahasa sehingga dikatakan, “Betapa panjang masa musibah dan betapa pendek waktu gembira!”

Wahai saudaraku yang sedang gelisah karena sakit akibat mengingat berbagai kenikmatan dunia! Seandainya dunia ini kekal abadi, lalu kematian menyingkir dari jalan kehidupan, kemudian setelah itu tidak ada lagi perpisahan, serta masa depan penuh dengan berbagai penderitaan terbebas dari musim dingin maknawi, maka aku turut berduka dan menangis melihat kondisimu.

Namun karena dunia mengusir kita dengan berkata, “ayo keluar!” Sementara ia tuli, tak terdengar teriakan dan permintaan tolong kita. Maka sebelum ia mengusir kita, mulai dari sekarang kita harus membuang rasa cinta terhadapnya serta perasaan kekal di dalamnya lewat teguran sakit.

Sebelum dunia itu melepaskan kita, kita yang harus lebih dahulu meninggalkannya secara batiniah (dalam hati).

Ya, sakit dan efeknya yang menyadarkan kita tentang makna yang tersembunyi mendalam tadi, membisikkan relung-relung kalbu kita seraya berkata, “Tubuhmu tidak terdiri dari benda padat dan besi. Tetapi ia berasal dari unsur-unsur yang beraneka ragam yang tersusun di dalam dirimu secara sangat sesuai untuk kemudian segera terpisah dan tercerai-berai.”

Karena itu, janganlah engkau sombong. Sadarilah kelemahanmu dan kenalilah Penciptamu. Selanjutnya, ketahuilah apa tugasmu dan apa tujuanmu datang kedunia.

Saudaraku. Jangan gelisah, bersabarlah! Karena sesungguhnya derita sakitmu itu bukanlah penyakit, tapi justru sebuah obat. Hal itu karena, umur manusia adalah modal yang terus berkembang. Jika tidak diinvestasikan maka akan hilang begitu saja. Apalagi jika usiamu dilalui dengan santai dan penuh keapaan, maka dia akan berlalu dengan cepat.

Dengan demikian sakit tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang besar bagi modal hidup dan tidak mengijinkan usia berlalu begitu saja dengan cepat. Ia tampak memperlambat umur, menghentikan, serta memperpanjangnya hingga berbuah, kemudian kembali ke asalnya.

Umur terasa panjang karena derita telah menjadi sebuah peribahasa sehingga dikatakan, “Betapa panjang masa musibah dan betapa pendek waktu gembira!”

Kemudian, selama keindahan dan kenikmatan dunia tidak akan abadi, khususnya jika tidak syar’I bahkan menghembuskan derita ke dalam jiwa dan mengakibatkan dosa, maka jangan engkau menangis karena tidak merasakan kenikmatan itu akibat derita sakitmu.

Akan tetapi, renungkan makna ibadah maknawi yang dikandung penderitaanmu itu serta pahala ukhrawi yang disembunyikan dari derita sakit tersebut. Berusahalah semampu mungkin untuk mendapatkan rasa yang suci bersih itu.

Dalam kondisi seperti itu, penyakit segera menyadarkanmu. Seakan-akan penyakit itu berkata kepadamu, “Engkau tidak abadi dan dibiarkan begitu saja. Engkau memiliki kewajiban. Tinggalkan sifat sombong dan ingat Tuhan yang menciptakanmu.”

Sakitmu sebagai mursyid (pembimbing) yang rajin memberikan nasihat dan peringatan. Karenanya, janganlah mengeluh, justru bernaunglah di bawah naungan syukur. Jika rasa sakit semakin menjadi-jadi, mohonlah kesabaran kepada-Nya.

Jadilah seperti mereka yang ketika ditimpa musibah mengatakan:

“Yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah, mereka mengatakan: Sesungguhnya kami milik Allah swt dan hanya kepada-Nyalah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)

“Kesederhanaan menghasilkan kebaikan dalam keinginan. Dan keinginan yang sempurna adalah menginginkan wajah- Nya.”

Semoga Allah memberkahimu dan menyembuhkan sakitmu.

(Terinspirasi dari buku berjudul, “Terapi maknawi dengan resep Qur’ani” pengarang: Badiuzzaman Said Nursi)

Ditulis oleh: Angga Rizuana
On Wednesday, April 15 2015

In Bandung, West Java

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s