My Mother is My Hero
Ibu

My Mother is My Hero

1106344115_1380036285

My Mother is My Hero”

Mungkin itu yang saya ketahui dari sosok Ibu yang telah membesarkan saya.. Sedikit cerita di balik pahlawan, bernama “Ibu”

Nama saya Angga Riswana. Lahir dan tinggal di daerah Bungbulang, Garut. kata orang wilayah pedesaan adalah tempatnya anak-anak kampung. Benar, saya anak kampung; kuper dan bodoh. Bungbulang, sebagai tempat yang biasa saya tulis di lembar identitas. Dan tempat yang melahirkan anak laki, dari seorang perempuan tangguh dan perkasa.

Ibu, sebagai perempuan yang melahirkan manusia baru, sekaligus harapan baru. Betapa bahagianya melihat manusia kecil, mungil, dan lucu berada di hadapannya. Begitu yang dirasakan setiap perempuan yang melahirkan anaknya.

Betapa yang dirasakan adalah keterharuan, dan kebahagiaan yang tiada tara. Kesakitan saat melahirkan telah hilang, digantikan oleh senyum dan binar manusia kecil itu; manusia yang belum mencoreti kertas amalnya dengan dosa. Yaa, dia anak kecil yang bersih dan suci.

Dilahirkan di daerah Bungbulang yang jauh dari pusat kota dan keramaiannya. Wajar jika daerah Bungbulang dianggap sebagai daerah tertinggal. Infrastruktur dan pembangunan minim, dan akses jalan yang belum baik membuat konektifitas antar daerah terganggu. Salah satu yang membuat kenyamanan terganggu adalah akses jalan menuju sekolah. Setiap hari saya harus menempuh jalan yang kurang baik. Tidak ada aspal, yang ada hanya batu-batu besar dan tanah-tanah liat yang becek.

Di sekolah tercinta SDN Bungbulang 5 saya mulai belajar membaca dan berhitung.

Saya tidak mengetahui arti dari pendidikan, yang saya tahu bahwa belajar adalah kewajiban bagi anak kecil. Wajar jika masa-masa sekolah Dasar adalah masa dimana perhatian pada pendidikan hanya dianggap sebagai media bermain. Tidak ada tekanan, dan apapun yang dikatakan guru kepadanya akan dilakukannya dengan senang hati. Itulah, masa-masa dimana ilmu dengan mudahnya masuk ke dalam otak-otak mereka.

Di sanalah saya merasakan menjadi anak kecil yang riang gembira. Saya tidak merasakan penderitaan orang tua yang bekerja siang malam untuk membiayai sekolah anaknya dan segudang keperluan lain. Saya selalu melihat senyum menghiasi bibirnya, tidak ada kegelisahan dan kesedihan. Dia penyayang, dan baik kepada anak-anaknya.

Menginjak usia 5 tahun, saya dikejutkan oleh kabar yang sangat memilukan. Ayah meninggalkan kami. Memang telah lama ayah menderita penyakit Tuberculosis. Dan itulah memang saatnya ayah harus meninggalkan kami. Kami bersedih atas musibah itu. Karena kami merasakan betapa ayah sangat penyayang kepada kami, dan sulit bagi kami untuk merelakan kepergian ayah.

Seorang yang menjadi pemimpin dan tulang punggung keluarga kami telah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi.

Kami merasakan betapa kehidupan sangat berat kami lalui. Hari-hari yang biasanya kami berkumpul bersama, seakan dihancurkan oleh badai yang memisahkan kebersamaan yang biasanya kami lalui. Sungguh kami merasakan kehilangan yang begitu dalam atas kepergian ayah.

Hari pertama tanpa ayah seakan menjadi mimpi buruk bagi saya. Betapa tidak, pada saat itu saya yang baru berusia 5 tahun harus rela menelan pil pahit kehidupan.

Saya adalah salah satu dari enam bersaudara. Saat kepergian ayah, kami masih berada di bangku sekolah. Kecuali saudara kami yang paling besar. Dia sudah menikah dan tinggal di luar kota.

Tidak ada harta peninggalan ayah untuk menjadi harta waris kecuali sedikit. Hanya rumah yang kami punya, dan sedikit rupiah yang masih tersisa. Tapi nyatanya kehidupan kami berubah saat Ibu mulai memberikan dorongan yang kuat kepada kami, bahwa kehidupan akan tetap berjalan dan mau tidak mau kami harus melaluinya.

Ibu adalah manusia ajaib yang tidak mau menampakkan kesedihan di hadapan anak-anaknya. Kami tahu bahwa Ibu sangat bersedih atas kepergian ayah, tapi binar matanya selalu mengisyaratkan ketegaran. Dan Seolah-olah dia mengatakan, “Kita masih mempunyai harapan, jangan bersedih nak, jangan bersedih.” Begitu yang kami rasakan saat itu.

Aku cinta Ibu, I love you mom
Ibu, I LOVE YOU

Kehidupan memang menyuguhkan berbagai keterkejutan. Termasuk salah satu dari banyaknya lika-liku yang tidak diharapkan. Memang sewajarnya sebagai manusia hanya menjalani apapun yang terjadi, karena angin akan maju ke depan dan tidak ada gunanya meratapi yang telah terjadi. Berusaha membuang bayang-bayang dan was-was yang menghinggapi kepala adalah suatu keharusan, dimana manusia sudah sepatutnya menghindari perasaan itu. Makhluk yang mempunyai insting dan indra yang lengkap menuntutnya untuk menatap ke depan dan menghindari rasa keputusasaan. Yakin dan percaya, bahwa di balik kesedihan ada kebahagiaan, yakin bahwa di balik kesusahan ada kemudahan.

                             ******

Ibu mampu mengirimkan sinyal positif bagi kehidupan keluarga kami. Tidak sedikitpun terlihat di wajahnya perasaan kecewa dan marah kepada Tuhan. Bahkan kami melihat pancaran cahaya dari wajahnya yang menunjukkan wujud sabar yang kami tidak memahaminya. Begitulah Ibu, dia sangat dekat dengan Tuhan. Wajar bila Ibu tetap sabar meski batu ujian terus menerpanya.

Saya adalah salah satu dari enam bersaudara. Menginjak usia 6 tahun saya menyaksikan betapa keluarga kami berubah 180 derajat. Setiap hari biasanya kami disuguhkan makanan enak dan lezat sekarang seolah diganti oleh makanan yang sama sekali kami belum pernah memakannya; ada perubahan yang membuat kami merasa bahwa kehidupan sangat pahit dan tidak sama sekali manis.

Tahun demi tahun pun berlalu. Tidak ada perubahan yang kami alami kecuali sedikit saja. Semuanya mengalir seperti air dan kami tidak tahu sampai kapan kami harus merasakan penderitaan itu; menjadi keluarga miskin.

Setelah lulus Sekolah Dasar saya langsung dimasukan di salah satu sekolah menengah pertama di Garut, SMPN 1 Bungbulang. Walaupun keadaan ekonomi keluarga kami jauh dari kata cukup, tetapi Ibu mempunyai motivasi besar untuk menyekolahkan saya. Terlebih saya adalah anak bungsu yang diharapkan bisa merubah kehidupan keluarga kami. Saya masih ingat betapa perjuangan Ibu untuk anaknya sangatlah besar. Dia rela meminjam uang kepada tetangga untuk menyekolahkan saya, membeli semua perlengkapan sekolah dan membiayai biaya masuk sekolah.

Saya merasakan tidak ada pahlawan yang paling saya kagumi selain Ibu. Dia adalah sosok pelindung dan pembimbing. Kebesaran hatinya telah mampu melupakan segala penderitaan hidup yang kami alami. Dialah yang selalu memegang tongkat perjuangan untuk tidak mengalah pada kerasnya kehidupan.

 Terima kasih Ibu... :) :) 

Ditulis oleh: Angga Rizuana
On Friday, April 3 2015

Iklan

1 thought on “My Mother is My Hero”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s