SMAN 7 GARUT

SMAN 7 GARUT | Lahir berjuta inspirasi

sman 7 garut
Muda menengah; Sumber gambar: Galeri pribadi



SMAN 7 Garut

“When i think about my #high school (SMAN 7 GARUT) experience, there are many things that come to my mind. Some of them are: good memories, bad memories, mistakes, lessons, happiness, heartbreak, misfortune, joy, drama, and most importantly, fun.”

Kalimat yang tepat sekali untuk mengungkapkan hal-hal apa saja yang saya alami selama di sekolah. Tidak bisa saya ingkari, saya mempunyai romantika tersendiri terhadap sekolah, saya pernah mengalami fase-fase, yang disebut fase muda menengah, yes I’m very young. Some of them were good, an some of them were bad.

Di sekolah itu, saya melahap buku-buku, mempelajari apa saja yang bisa dipelajari dan menarik minat, berdiskusi, berlama-lama di perpustakaan, bahkan berani bolos demi membaca buku di perpustakaan(hehe.. jangan ditiru yaa). Sekolah selalu menyediakan pemikiran baru. Ada begitu banyak diskusi dan pelajaran yang membuka jendela pemikiran, kegiatan-kegiatan siswa yang mampu mengasah imajinasi.

logo sman 7 garut
logo sman 7 garut

Indahnya kebersamaan tampak nyata saat masa-masa putih abu, sekolah sebagai tempat berteduh untuk para generasi pencipta karya. SMA 7 GARUT menyimpan kesan sebagai sekolah bernuansa hijau, sehingga tak salah jika kemudian sekolah itu menjadi salah satu sekolah berbasis lingkungan. Benar-benar seakan tak pernah ada suasana jalan dengan asap kenalpotnya, yang ada hanyalah desiran angin yang lembut dan suasana sejuk.. ditambah dengan beraneka pepohonan rindang mengelilingi sekolah itu.  Mereka larut dalam irama keteduhan, kebersamaan yang juga memberi kesan yang tidak akan pernah terlupakan.

halaman depan
XII IPA 1; Sumber: Galeri pribadi

1. Menjadi seorang siswa SMAN 7 GARUT

“Siswa” adalah nama yang saya sandang ketika masa putih abu, dan menjadi bagian dari komunitas warga sekolah. Rasanya seakan di sanalah tempat berteduhku, di sanalah saya mempunyai hubungan yang sama erat dan mendalamnya seperti hubungan saya dengan keluarga saya sendiri. Sistem kehidupan kami masih menyimpan etika dan keharmonisan, wajar saja pemandangan kota dan segala pergaulannya yang ekstrim belum mencemari generasi kami.

Di sekolah itulah. Yaa, SMAN 7 GARUT telah saya anggap tempat di mana saya bisa mengungkapkan segala ekspresi kehidupan di dalamnya, termasuk beragam pemikiran kritis dan emosional. Berawal dari diskusi-diskusi yang selalu diadakan hampir oleh setiap guru, tiap minggu berganti minggu tak henti-hentinya kami disuguhkan oleh tugas-tugas yang menuntut kami untuk berfikir dan berargumen selayaknya seorang ilmuwan. Hehe… Memang sekolah itu menyuguhkan buku pemikiran yang secara sadar atau tidak membuat siswa-siswi merasa asyik ketika belajar.. Yaaa ditambah dengan guru-guru yang asyik dan energik. Sebut saja Guru Bahasa Indonesia, Ibu Lela Nurlatifah, SPd. Seorang guru yang masih muda, selalu saja membuat suasana belajar menjadi asyik dan menarik.

2. Inspirasi Menarik

SMAN 7 Garut menyuguhkan berjuta inspirasi menarik, mulai dari sikap para guru dan siswa yang masih kental dengan suasana keramah-tamahannya, dan sistem pembelajaran yang begitu dinamis dan idealis selayaknya sekolah-sekolah yang berada di kota. Makin bangga nihh bisa sekolah di SMAN 7 Garut (ciie ciee dibanggain :D). Tak dapat disangkal lagi, saya adalah termasuk alumni yang sangat merindukan suasana sekolah.. Siapa yang tidak merindukan sekolah?  siapa yang tega melupakan tempat menuntut ilmu, bercanda, dan segudang aktifitas lainnya yang menanamkan cerita-cerita indah di dalamnya. Saya kira wajar saja, siapapun pasti merindukan sekolah..

sman 7 garut
front school sman 7 garut
3. Masa muda menengah

Bisa disebut muda memengahkarena umur saya belum menginjak 18, labil dan cenderung emosional; kalau diajak apapun, pasti mau. Tidak bisa berfikir pas ke arah kebaikan, semuanya samar; yang ada malah saya selalu mementingkan kesenangan saya sendiri. Soal masa depan? Masa bodo. Semuanya berjalan dengan mudahnya; tidak ada beban. Makanya saya sebut, jamannya SMA adalah jamannya muda menengah; so bisa disebut labil.

4. Ekskul FORMIS

Salah satu kenangan yang tidak terlupakan adalah sebuah hal yang bernama Ekskul. Bagaimana bisa terlupakan? Karena di sanalah saya menemukan jati diri, (ciie). Ekskul, sebuah tempat yang memberi wawasan terhadap keorganisasian termasuk kepemimpinan. Di kelas saya hanya mendapatkan pelajaran yang harus dihafal, dan rumus-rumus matematikanya yang membosankan. Tetapi tidak dengan ekskul, di sana saya merasakan adanya kebebasan untuk berekspresi, menyampaikan pendapat dan menerima wawasan lebih luas daripada di kelas. Itulah sebabnya saya masih merasakan adanya perubahan ketika mengikuti ekskul FORMIS (Forum Remaja Islam). Satu-satunya organisasi bernafaskan islam yang ada di SMAN 7 Garut. Benar-benar telah memberikan pencerahan diri. Terima kasih !!

5. Saya juga tak pernah lupa kepada salah satu teman saya.

Dia adalah salah seorang aktivis di SMAN 7 Garut. Dia menganggap belajar di kelas hanyalah sebagai figuran seorang siswa, dan tak terlalu penting. Dan memang dalam aktivitasnya di dunia aktivis, menghafal pelajaran menjadi hal kesekian, dan organisasinyalah yang menjadi nomer satu. Jika diruntut menurut kejadiannya, dan menurut cerita yang disampaikannya kepada saya; betapa sebenarnya, kata dia kita telah membuang banyak sekali hal demi mengerjakan tugas dari Guru, menurutnya organisasi lebih penting dari sekedar mengerjakan tugas. (haha, sedikit nyeleneh siih, jangan ditiru- ini hanya deskripsi dulu saja). Satu yang bisa saya tangkap ialah, dia tetap menjaga prinsipnya; sehingga tak salah ketika kemudian dia lebih mahir dalam keorganisasian daripada teman-temannya. “Yaa wajar-wajar saja ketika saya kurang pintar dalam hal pelajaran sekolah.” katanya. Taapii no problem, semua orang berhak menentukan prinsip.

Jadi, seorang siswa bukanlah sekedar robot yang selalu menjalankan rutinitas yang sama setiap saat. Dimana mereka tidak benar-benar mengerti tentang apa yang mereka kerjakan dan untuk apa mereka melakukan itu. Siswa seharusnya bukanlah seperti remaja laki-perempuan di dalam sinetron di televisi yang memberi prosentase 90% untuk cerita cinta mereka sebagai muda-mudi dan 10% untuk belajar. Siswa yang sesungguhnya bukanlah pemain sinetron, karena hidup mereka di dunia nyata dimana banyak hal yang jauh lebih penting dibandingkan sekedar disibukkan dengan konflik percintaan mereka, yaitu membangkitkan diri untuk berprestasi dan membawa kebermanfaatan bagi lingkungan mereka…

Itulah mungkin pesan kecil yang bisa diambil dari masa-masa sekolah dulu.#SMAN7GARUT

Ditulis oleh: Angga Rizuana
Bandung, September 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s